Bandung, QJabar – Nama Ujungberung Rebels telah menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan musik underground Indonesia. Berawal dari pergerakan anak-anak muda di wilayah timur Kota Bandung, komunitas ini berkembang menjadi sebuah kekuatan budaya yang melahirkan banyak musisi dan band cadas hingga dikenal di berbagai penjuru dunia.
Dari rahim pergerakan tersebut lahir sejumlah nama besar seperti Burgerkill, Jasad, Forgotten, Beside, Infamy, Restless, dan sederet band lainnya.
Perjalanan Ujungberung Rebels bukan sekadar tentang musik keras. Di dalamnya terdapat cerita mengenai persahabatan, kreativitas, kemandirian, perlawanan terhadap keterbatasan, hingga upaya mempertahankan identitas budaya lokal.
1. Akar Pergerakan: Akhir 1980-an hingga 1990-an
Benih skena musik cadas di Ujungberung mulai tumbuh sekitar akhir 1980-an. Kala itu, Ujungberung masih sangat kuat dengan berbagai tradisi lokal, termasuk seni bela diri benjang.
Di tengah lingkungan tersebut, anak-anak muda mulai mengenal berbagai musik ekstrem dari luar negeri, seperti death metal, grindcore, dan thrash metal.
Kaset rekaman, majalah musik, zine, hingga informasi mengenai band-band luar negeri menjadi barang berharga. Pertukaran informasi berlangsung dari tangan ke tangan.
Alun-alun Ujungberung, studio musik lokal, rumah, hingga kamar-kamar kos menjadi ruang bertemunya para penggemar musik cadas.
Dari sinilah terbentuk jaringan pertemanan yang kemudian berkembang menjadi sebuah komunitas.
2. ENG dan Era Propaganda, 1995–1997
Pada 1995, sejumlah pionir seperti Yayat dan Dinan menggagas Extreme Noise Grinding (ENG) sebagai salah satu wadah pergerakan musik ekstrem di Ujungberung.
ENG tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya musisi dan penggemar musik cadas. Mereka juga membangun sistem penyebaran informasi secara mandiri melalui media alternatif.
Salah satunya adalah fanzine Revograms, yang menjadi sarana untuk mengulas musik, menyebarkan informasi serta memperkuat jaringan antarkomunitas.
Setahun kemudian, sekitar 1996, istilah Ujungberung Rebels mulai digunakan dan semakin melekat sebagai identitas pergerakan.
Nama tersebut tidak hanya menunjukkan asal geografis mereka, tetapi juga mencerminkan semangat anak muda dari kawasan pinggiran yang memilih membangun jalannya sendiri di luar dominasi industri musik arus utama.
3. Bandung Berisik dan Semangat DIY
Memasuki akhir 1990-an hingga era 2000-an, keterbatasan panggung dan minimnya dukungan promotor besar justru mendorong komunitas Ujungberung Rebels semakin mandiri.
Prinsip Do It Yourself (DIY) menjadi salah satu fondasi utama.
Ketika panggung tidak tersedia, mereka membuat panggung sendiri. Ketika media tidak memberikan ruang, mereka membuat media sendiri. Ketika industri rekaman sulit ditembus, mereka membangun jalur distribusi sendiri.
Salah satu manifestasi terbesar gerakan tersebut adalah lahirnya Bandung Berisik.
Edisi awal yang dikenal sebagai Bandung Berisik Demo Tour menjadi ruang bagi band-band lokal untuk tampil dan memperkenalkan musik mereka. Dalam perkembangannya, Bandung Berisik tumbuh menjadi salah satu festival musik ekstrem yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan skena metal Indonesia.
Ekosistem tersebut kemudian berkembang ke berbagai sektor, mulai dari label rekaman independen, studio musik, distribusi rilisan, hingga merchandise.
Salah satu nama yang ikut mewarnai ekosistem tersebut adalah Pieces, yang menjadi bagian dari perkembangan industri merchandise komunitas.
Kemandirian ekonomi inilah yang membuat pergerakan Ujungberung Rebels tidak semata bergantung pada industri musik mainstream.
4. “Panceg Dina Galur” dan Identitas Budaya Sunda
Memasuki era 2010-an, identitas Ujungberung Rebels semakin berkembang.
Musik metal tidak lagi dipandang sekadar sebagai musik keras, tetapi juga menjadi medium untuk mengekspresikan identitas, sejarah dan kebudayaan lokal.
Filosofi “Panceg Dina Galur, Ngajaga Lembur” menjadi salah satu gagasan yang kuat dalam pergerakan tersebut.
Semangat itu mendorong terjadinya pertemuan antara budaya Sunda dengan musik ekstrem modern.
Salah satu contoh yang paling dikenal adalah Karinding Attack, proyek yang melibatkan Man Jasad dan sejumlah musisi lainnya. Musik karinding yang merupakan bagian dari tradisi Sunda dipadukan dengan energi dan estetika musik metal.
Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa musik underground dapat berjalan berdampingan dengan tradisi lokal, sekaligus menjadi media untuk memperkenalkan kebudayaan Sunda kepada khalayak yang lebih luas.
5. Menembus Panggung Internasional
Perjalanan panjang Ujungberung Rebels akhirnya membawa sejumlah band dari komunitas tersebut ke panggung internasional.
Burgerkill menjadi salah satu nama yang paling menonjol. Band ini berhasil mendapatkan pengakuan di luar negeri dan tampil dalam berbagai agenda musik internasional.
Sementara itu, Jasad juga membawa identitas musik ekstrem Indonesia ke berbagai festival dan panggung metal dunia, termasuk penampilan di festival internasional seperti Wacken Open Air di Jerman dan Bloodstock Open Air di Inggris.
Keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa gerakan yang tumbuh dari komunitas lokal di Ujungberung mampu berkembang menjadi bagian dari jaringan musik underground global.
6. Sejarah yang Terus Didokumentasikan
Perjalanan Ujungberung Rebels juga tidak berhenti pada musik dan pertunjukan.
Sejarah komunitas ini kemudian didokumentasikan secara lebih serius, salah satunya melalui buku “Ujungberung Rebels: Panceg Dina Galur” yang ditulis Kimung dan terbit pada 2013.
Dokumentasi tersebut menjadi salah satu sumber penting untuk melihat perjalanan skena musik underground Ujungberung dari perspektif orang-orang yang berada di dalam gerakan tersebut.
Seiring waktu, sejarah Ujungberung Rebels juga menarik perhatian akademisi, peneliti, budayawan hingga pegiat sejarah kota.
Bukan Sekadar Komunitas Musik
Ujungberung Rebels pada akhirnya bukan hanya cerita tentang musik metal.
Ia merupakan cerita tentang bagaimana anak-anak muda dari sebuah kawasan di timur Bandung membangun ruang kreatifnya sendiri.
Mereka membangun panggung, media, jaringan, industri kreatif, hingga membawa identitas lokal ke panggung internasional.
Dari kaset dan fanzine, berkembang menjadi festival, label, merchandise, studio, hingga jaringan internasional.
Lebih dari tiga dekade perjalanan tersebut menjadikan Ujungberung Rebels sebagai salah satu bagian penting dari sejarah musik underground Indonesia.
Adakah cerita, nama, tempat, atau peristiwa lain yang menurut kalian penting dalam perjalanan sejarah Ujungberung Rebels?
Silakan tambahkan informasi dan pengalaman kalian di kolom komentar. Karena sejarah sebuah gerakan tidak hanya ditulis oleh satu orang, tetapi juga dibangun dari cerita banyak orang yang pernah menjadi bagian di dalamnya. (day)
Sumber: Dilansir dari laman sosial media Aldo Rojax





