KUNINGAN Qjabar — Kaderisasi tidak boleh berjalan tanpa arah. Pembinaan tidak boleh kehilangan standar. Dan perjuangan dakwah tidak boleh kehilangan generasi penerus.
Semangat itulah yang mengemuka dalam Sosialisasi dan Standardisasi Murabbi Ula dan Wustha Gabungan Cirebon Raya yang digelar Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Barat di Pesantren Masyarakat Cibuntu, Kuningan, Jumat–Sabtu, 25–26 September 2026.
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengokohkan barisan para murabbi sebagai ujung tombak kaderisasi Hidayatullah di wilayah Cirebon Raya.
Bukan sekadar forum sosialisasi. Bukan pula sekadar menyamakan materi.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi konsolidasi kekuatan pembinaan untuk memastikan lahirnya kader-kader yang memiliki jati diri, kokoh dalam aqidah, kuat dalam ibadah, matang dalam kepribadian, dan siap mengambil peran dalam perjuangan dakwah.
Murabbi Harus Menjadi Penggerak
Di hadapan tantangan zaman yang semakin kompleks, kebutuhan terhadap kader yang tangguh semakin besar. Karena itu, kualitas murabbi menjadi salah satu kunci utama keberhasilan kaderisasi.
Murabbi bukan hanya penyampai materi. Murabbi adalah pembina jiwa, pengarah langkah, penjaga nilai, dan teladan perjuangan.
Dari tangan murabbi, karakter kader ditempa. Dari keteladanan murabbi, semangat perjuangan diwariskan. Dan melalui proses pembinaan yang konsisten, kader-kader baru dipersiapkan untuk melanjutkan estafet dakwah.
Karena itu, standardisasi Murabbi Ula dan Wustha menjadi langkah strategis agar seluruh proses pembinaan memiliki arah yang jelas, standar yang kuat, dan kualitas yang terus meningkat.
Menyatukan Langkah, Menguatkan Barisan
Para peserta dari wilayah Cirebon Raya mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh kesungguhan. Sosialisasi, pendalaman materi, diskusi, dan penguatan implementasi menjadi bagian dari proses untuk menyatukan pemahaman serta menyamakan langkah dalam menjalankan amanah kaderisasi.
Pesantren Masyarakat Cibuntu menjadi saksi berkumpulnya para pembina yang membawa satu tekad: menguatkan kaderisasi untuk menguatkan gerakan dakwah.
Baca juga : Erick Thohir Tinjau SJH, KDS Pastikan Kabupaten Bandung Siap Jadi Tuan Rumah yang Baik
Sebab sebuah gerakan tidak akan kokoh tanpa kader yang kokoh. Dan kader yang kokoh tidak lahir secara instan. Ia lahir dari proses pembinaan yang panjang, disiplin, terarah, dan penuh keteladanan.
Menyiapkan Generasi Pejuang Peradaban
Kegiatan ini diharapkan menjadi titik tolak bagi semakin kuatnya implementasi Murabbi Ula dan Wustha di seluruh wilayah Cirebon Raya.
Para murabbi didorong untuk tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi segera menerjemahkannya menjadi gerakan pembinaan nyata di tengah kader dan masyarakat.
Semangatnya jelas: tidak boleh ada kader yang kehilangan arah, tidak boleh ada potensi generasi yang dibiarkan berjalan tanpa pembinaan.
Hidayatullah membutuhkan kader yang bukan hanya cerdas, tetapi juga kokoh. Bukan hanya terampil, tetapi juga berkarakter. Bukan hanya mampu berbicara, tetapi siap bekerja dan berkorban untuk dakwah.
Dari Cibuntu, Kuningan, semangat itu kembali diteguhkan.
Murabbi kuat, kader kuat.
Kader kuat, gerakan kuat.
Gerakan kuat, dakwah semakin meluas.
Dan dari kaderisasi yang kokoh itulah, insya Allah akan lahir generasi pejuang yang siap meneruskan estafet perjuangan membangun peradaban Islam.
Reporter : A Juhana


