Heboh Toilet Bau di SDN Galunggung Tasikmalaya: Gaya Cuek Siswa vs Beban Kerja OB yang Terbelah Gara-Gara Makan Gratis

0
3

TASIKMALAYA, QJABAR – Urusan toilet sekolah mendadak jadi sorotan hangat di Kota Tasikmalaya. Berawal dari keluhan orang tua murid soal aroma tak sedap di toilet SDN Galunggung, Anggota DPRD Kota Tasikmalaya, Kepler Sianturi, langsung meluncur melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada Selasa (6/10/2026). Hasilnya? Ternyata masalahnya jauh lebih pelik daripada sekadar bau pesing.

Di lapangan, legislator dari Fraksi PDIP ini menemukan kondisi toilet yang memang kurang terawat. Plus, belum ada pemisahan tegas antara toilet untuk siswa laki-laki dan perempuan.

Namun setelah ditelisik, akar masalahnya bukan karena penjaga sekolah malas. Dua petugas kebersihan (OB) di sekolah tersebut ternyata sedang kelimpangan akibat kena plot twist pekerjaan: mereka kena beban ganda (double job). Di satu sisi harus menjaga kebersihan seluruh lingkungan sekolah, di sisi lain konsentrasi mereka terpecah karena harus ikut mengurusi operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang berjalan.

“Faktanya, fokus OB ini terbelah karena merangkap tugas mengurusi program MBG. Akibatnya, tugas utama mereka untuk memelihara kebersihan toilet jadi kedodoran,” kritik Kepler saat melihat realitas di lapangan.

Mendapat sorotan tajam, Kepala SDN Galunggung, Hj. N. Oon, S.Pd., langsung angkat bicara. Menggunakan sudut pandang pendidik yang menghadapi realitas harian, ia menegaskan kalau seluruh stafnya sudah bekerja pontang-panting sesuai kontrak kerja.

Menurut Oon, menjaga kebersihan sekolah itu adalah urusan bersama dengan konsep pentahelix—kerja keroyokan yang melibatkan siswa, guru, kepala sekolah, hingga orang tua di rumah. Beban ini tidak bisa begitu saja dilempar ke pundak penjaga sekolah sendirian.

Secara blak-blakan, Oon membongkar tantangan terbesar yang mereka hadapi setiap hari: kebiasaan anak-anak usia SD yang masih minim kesadaran.

“Kendala paling riil itu justru ada pada kebiasaan anak-anak sendiri. Sering banget habis pakai WC, mereka langsung ngeloyor pergi tanpa disiram. Namanya juga anak SD, mereka masih butuh bimbingan ekstra. Bahkan, kadang ada yang selesai buang air besar masih harus dibantu cebok sama ibu gurunya,” ungkap Oon blak-blakan.

Bagi Oon, fasilitas semewah apa pun tidak akan bertahan lama kalau edukasi karakter tidak dimulai dari dalam rumah. “Di sekolah kami didik, tapi orang tua di rumah juga wajib cerewet mengingatkan anaknya. Hal-hal mendasar seperti memastikan WC disiram sampai bersih setelah dipakai itu harus dibentuk sejak dini dari rumah,” tambahnya.

Meski sempat saling adu argumen dan sudut pandang, sidak ini untungnya berakhir dengan solusi yang adem dan konstruktif. Untuk mengatasi masalah jangka pendek, Kepler merekomendasikan sekolah segera memasang papan penanda visual yang jelas untuk memisahkan toilet laki-laki dan perempuan sebagai langkah edukasi dini bagi siswa.

Tak cuma modal kritik, Kepler juga berjanji bakal mengawal masalah ini ke tingkat yang lebih tinggi. Jika SDN Galunggung memang butuh perombakan total pada sarana sanitasinya, ia siap menjembatani dan memperjuangkan usulan rehabilitasi fasilitas tersebut hingga tembus ke pemerintah pusat. Sebuah akhir yang manis, karena alih-alih sibuk mencari siapa yang salah, semua pihak memilih fokus memberikan kenyamanan terbaik untuk masa depan anak-anak.

Catatan Redaksi: Urusan sanitasi sekolah sejatinya bukan sekadar perkara air dan sabun, melainkan cerminan dari hulu kebijakan operasional sekolah serta pembentukan karakter anak sejak dini. Redaksi membuka ruang diskusi, opini, maupun hak jawab seluas-luasnya bagi masyarakat umum, pengamat pendidikan, dan instansi terkait demi mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang sehat, aman, dan nyaman bagi generasi penerus kita.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini