Home / Olahraga / Prestasi di Volley Ball Kab. Bandung, Diduga Penuh Skenario Penentuan Pemain

Prestasi di Volley Ball Kab. Bandung, Diduga Penuh Skenario Penentuan Pemain

Bandung, Qjabar — Kejuaraan Bola Voli antarklub tingkat Kabupaten Bandung kelompok usia kelahiran 2013 kini berada di bawah sorotan publik. Sejumlah ofisial tim peserta serta orang tua atlet mempertanyakan integritas kompetisi menyusul munculnya dugaan ketidaksesuaian usia salah satu pemain dari tim A2S Sinar Bahari asal Pacet.

Keraguan tersebut mencuat setelah beberapa ofisial klub menilai, secara kasat mata, postur tubuh dan kematangan fisik salah satu pemain A2S dinilai tidak lazim untuk kategori usia U-12. Meski penilaian visual tidak dapat dijadikan dasar pembuktian hukum, kondisi ini memicu pertanyaan serius mengenai ketat atau tidaknya proses verifikasi administrasi atlet oleh panitia penyelenggara.

Sorotan serupa juga datang dari kalangan orang tua atlet. Seorang penonton berinisial (I) asal Soreang mengaku menyaksikan langsung adanya kejanggalan di lapangan. Ia menilai penampilan fisik pemain tersebut tampak lebih matang dibandingkan mayoritas atlet lain.

“Kalau hanya satu dua orang yang bertanya mungkin bisa dianggap biasa. Tapi ini banyak yang merasa janggal. Artinya ada persoalan yang perlu dijelaskan secara terbuka,” ujarnya, Senin (29/12/25).

Nada lebih keras disampaikan oleh seorang ofisial tim peserta yang enggan disebutkan namanya. Ia menilai persoalan ini menyangkut keadilan dan integritas kompetisi, bukan sekadar persepsi di lapangan.

“Terus terang kami kecewa. Ini kejuaraan usia dini, bukan open tournament. Kalau soal umur saja tidak bisa diverifikasi dengan jelas, lalu di mana letak keadilannya? Anak-anak kami berlatih bertahun-tahun untuk bertanding secara jujur,” tegasnya.

Menurutnya, panitia penyelenggara seharusnya bersikap terbuka dan tidak defensif ketika muncul pertanyaan dari peserta. Ia menekankan bahwa transparansi data merupakan kunci menjaga kepercayaan publik.

Baca  juga : Pemkab Bandung Gelar Harmoni Budaya Bedas: Merajut Budaya untuk Pulih Bersama dan Bangkit Kembali

“Kami tidak menuduh siapa pun, tapi panitia wajib membuktikan bahwa semua pemain benar-benar sesuai usia. Jangan sampai kejuaraan ini justru mengajarkan anak-anak bahwa pelanggaran bisa ditoleransi,” lanjutnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tanpa klarifikasi resmi, polemik ini berpotensi berkembang menjadi persoalan yang lebih besar dan merusak legitimasi kejuaraan.

“Kalau tidak ada penjelasan resmi, wajar kalau publik menilai kompetisi ini tidak fair. Ini bukan soal menang atau kalah, tapi soal integritas dan masa depan pembinaan olahraga usia dini,” pungkasnya.

Munculnya dugaan ini memunculkan pertanyaan mendasar terkait mekanisme pengawasan panitia hususnya tim screening. Dalam kompetisi olahraga usia dini, verifikasi usia melalui dokumen resmi seperti akta kelahiran atau kartu identitas seharusnya menjadi syarat mutlak, bukan sekadar formalitas administratif.

Jika isu ini dibiarkan tanpa klarifikasi yang transparan, dikhawatirkan akan mencederai nilai sportivitas serta menggerus kepercayaan terhadap sistem pembinaan olahraga usia dini di Kabupaten Bandung. Lebih jauh, ketidakjelasan tersebut berpotensi menjadi preseden buruk bagi penyelenggaraan kejuaraan serupa di masa mendatang, tutupnya diiringi raut wajah kekecewaan.

Baca juga : Kadisdik Kab.Bandung Asep Kusumah 3,5 Juta Biji Bijian Terkumpul Demi Selamatkan Hutan

Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat keterangan resmi dari panitia penyelenggara maupun pihak tim A2S Sinar Bahari terkait isu yang berkembang. Publik kini menantikan sikap tegas, terbuka, dan profesional dari penyelenggara agar kejuaraan ini tidak meninggalkan catatan negatif dalam dunia olahraga pelajar.

Reporter : Yun.s

 

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *