Kabupaten Bandung Qjabar – Festival Tunas Bahasa Ibu menjadi salah satu kegiatan yang dinilai penting dalam memperkuat pembangunan karakter peserta didik sekaligus menanamkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya daerah sejak usia sekolah.
“Alhamdulillah pada hari ini, Senin 21 September, kita menyelenggarakan Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Kabupaten Bandung bertempat di SMP Negeri 1 Margahayu. Ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat pembangunan karakter para siswa,” ujarnya.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya yang sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam memperkuat pendidikan karakter para siswa melalui pengenalan dan pemahaman terhadap kekayaan budaya yang dimiliki daerah.
Dikatakan Kadisdik kabupaten Bandung Asep Kusumah, S.Sos., M.Si. Dalam Festival Tunas Bahasa Ibu, para peserta didik diberikan kesempatan untuk belajar, memahami, mengenal, sekaligus mempraktikkan berbagai bentuk kekayaan bahasa dan budaya Sunda. Kegiatan tersebut dikemas melalui sejumlah mata lomba yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menggali nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Setidaknya terdapat tujuh mata lomba yang menjadi bagian dari Festival Tunas Bahasa Ibu. Di antaranya pupuh, borangan, carita pondok, biantara atau pidato bahasa Sunda, serta berbagai cabang lainnya yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa dan bersastra Sunda.
Melalui berbagai perlombaan tersebut, para siswa tidak hanya dituntut untuk menunjukkan kemampuan secara teknis, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam bahasa dan budaya Sunda.
“Ini menjadi kesempatan anak-anak kita untuk belajar memahami, mengetahui, melaksanakan, dan mempelajari bagaimana kekayaan budaya yang kita miliki,” demikian disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, keberadaan budaya daerah memiliki peranan penting dalam menopang kekayaan budaya nasional. Indonesia memiliki beragam budaya daerah yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari identitas bangsa.
Karena itu, pengenalan budaya kepada generasi muda dinilai menjadi salah satu langkah penting agar anak-anak tidak kehilangan jati diri di tengah perkembangan zaman.
Ditambahkan Asep Kusumah Kemampuan anak dalam mengenali, memahami dan menjaga budaya daerah disebut dapat menjadi modal sosial sekaligus modal karakter yang akan mewarnai perjalanan mereka di masa mendatang.
Terlebih, bahasa ibu dan budaya ibu memiliki nilai-nilai luhur yang erat kaitannya dengan pembentukan budi pekerti. Nilai kesopanan, tata krama, penghormatan terhadap orang lain serta berbagai nilai kehidupan lainnya dapat dikenalkan melalui pembelajaran bahasa dan budaya Sunda.
“Dalam bahasa ibu, dalam budaya ibu, itu kuat melekat nilai-nilai luhur keluhuran tentang budi pekerti. Mudah-mudahan ini menjadi pengalaman belajar yang berharga untuk anak-anak kita,” ungkapnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh satuan pendidikan yang terus memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Peran kepala sekolah, para guru, khususnya guru Bahasa Sunda, serta Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Sunda dinilai sangat penting dalam mendampingi para siswa.
Para pendidik tidak hanya memberikan pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga membuka ruang bagi siswa untuk memperoleh pengalaman secara langsung melalui berbagai kegiatan kebudayaan.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan generasi muda tetap mengenal bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin pesat.
Di Kabupaten Bandung sendiri, penguatan karakter melalui pendekatan budaya juga mendapat perhatian melalui kebijakan muatan lokal.
Disebutkan, terdapat tiga muatan lokal yang menjadi bagian dari penguatan pendidikan di Kabupaten Bandung. Pertama, pendidikan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kedua, pembelajaran mengaji dan menghafal Al-Qur’an. Ketiga, pembelajaran bahasa dan budaya Sunda.
Baca juga : Mulai Januari 2027, 7.550 PPPK Paruh Waktu Kabupaten Bandung Jadi Penuh Waktu
Kebijakan tersebut menjadi salah satu kekuatan dalam membangun karakter peserta didik dengan tetap mengedepankan nilai-nilai kebangsaan, keagamaan serta kearifan lokal.
Melalui pembelajaran bahasa dan budaya Sunda, para siswa diharapkan tidak hanya mampu berkomunikasi menggunakan bahasa daerah, tetapi juga memahami filosofi, nilai, norma dan budaya yang terkandung di dalamnya.
Dengan demikian, Festival Tunas Bahasa Ibu tidak sekadar menjadi ajang perlombaan antarsiswa. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran sekaligus sarana untuk menanamkan rasa bangga terhadap identitas budaya daerah.
Keterlibatan berbagai pihak juga menjadi faktor penting dalam keberlanjutan program tersebut. Pemerintah, satuan pendidikan, guru, orang tua, masyarakat, serta media memiliki peran masing-masing dalam menjaga eksistensi bahasa dan budaya Sunda.
Media massa diharapkan turut mengambil bagian dengan memberikan informasi dan mengampanyekan pentingnya menjaga bahasa serta budaya daerah kepada masyarakat luas.
Sebab, bahasa Sunda dan budaya Sunda bukan hanya bagian dari warisan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi modal sosial yang kuat dalam membentuk karakter generasi muda dan mendukung pengembangan diri anak-anak di masa depan.
Melalui kegiatan seperti Festival Tunas Bahasa Ibu, generasi muda diharapkan semakin mengenal akar budayanya, memiliki rasa bangga terhadap identitas daerah, serta mampu membawa nilai-nilai luhur budaya Sunda dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, pelestarian bahasa dan budaya Sunda tidak berhenti pada kegiatan festival maupun perlombaan, tetapi dapat terus tumbuh menjadi bagian dari kehidupan dan karakter generasi penerus di Kabupaten Bandung.
Reporter : Yun.s


