BerandaDaerahDugaan Kekerasan Terhadap Massa Aksi di Dinas Pendidikan Tasikmalaya, Aparat Didesak Bertindak

Dugaan Kekerasan Terhadap Massa Aksi di Dinas Pendidikan Tasikmalaya, Aparat Didesak Bertindak

Date:

Berita Terkini

Rapat Internal DPC PWRI Tasikmalaya Bahas Teknis Muscab hingga Bakal Calon Ketua

Kabupaten Tasikmalaya, QJabar – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Cabang (Muscab),...

Lepas Bapenda Bedas Run, KDS Ajak Warga Tingkatkan Kepatuhan Pajak

Kabupaten Bandung Qjabar - Bupati Bandung Dadang Supriatna (KDS)...

Wendi Ginanjar Sebagai Anggota BPD Desa Sangkanhurip, Siap Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Dusun 3

Kabupaten Bandung, Qjabar – Semangat untuk berkontribusi dalam pembangunan...

KDS : Gotong Royong Lewat Pentahelix Jadi Kunci Utama Kendalikan Banjir

KAB BANDUNG Qjabar- Bupati Bandung, Kang Dadang Supriatna atau...

KDS Fokus Benahi Drainase dan Normalisasi Sungai untuk Kurangi Dampak Banjir

KABUPATEN BANDUNG Qjabar – Bupati Bandung, Dadang Supriatna (KDS)...
spot_imgspot_img

Kabupaten Tasikmalaya, QJabar — Dugaan praktik premanisme di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya memantik kecaman keras dari berbagai elemen masyarakat. Ketua Saung Rakyat, Dadan Jaenudin, melontarkan kritik tajam atas insiden kekerasan yang diduga terjadi terhadap massa aksi, sekaligus menuding adanya pembiaran bahkan indikasi keterlibatan oknum dalam peristiwa tersebut, Senin (27/04/2026).

Pernyataan keras itu muncul menyusul insiden pada 21 April lalu, ketika seorang peserta aksi dari FORTABES ( Forum Tasikmalaya Bersatu ) dilaporkan mengalami penamparan saat tengah menyampaikan aspirasi di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya. Peristiwa tersebut dinilai sebagai bentuk nyata intimidasi terhadap kebebasan berpendapat.

“Kami datang untuk mencari pelaku yang menampar rekan kami. Ini bukan persoalan sepele, ini adalah kekerasan terhadap warga yang sedang menjalankan hak konstitusionalnya,” tegas Dadan dengan nada tinggi.

Ia menilai, kejadian tersebut bukan sekadar pelanggaran biasa, melainkan cerminan kemunduran serius dalam praktik demokrasi di tingkat daerah. Menurutnya, kantor pemerintah semestinya menjadi ruang aman bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, bukan justru berubah menjadi tempat yang menakutkan.

“Dinas itu wajib membuka ruang dialog, bukan malah diduga menyiapkan orang untuk menghadapi atau memback-up massa aksi. Jika benar ada pembiaran, apalagi keterlibatan, ini adalah bentuk kegagalan institusi dalam menjalankan fungsinya,” ujarnya tajam.

Lebih jauh, Dadan mengungkap adanya indikasi intimidasi yang lebih luas, termasuk dugaan penculikan terhadap peserta aksi. Ia menegaskan, jika hal tersebut terbukti, maka persoalan ini telah masuk dalam kategori pelanggaran hukum serius yang tidak bisa ditoleransi.

“Ini bukan lagi sekadar dinamika aksi. Ada indikasi intimidasi sistematis, bahkan dugaan penculikan. Jika ini benar, maka kita sedang berhadapan dengan praktik yang mencederai hukum dan demokrasi secara terang-terangan,” katanya.

Ia pun mendesak aparat penegak hukum untuk tidak tinggal diam dan segera melakukan penyelidikan menyeluruh, transparan, serta tanpa tebang pilih terhadap seluruh pihak yang terlibat.

“Penegak hukum tidak boleh ragu. Usut tuntas, buka seterang-terangnya ke publik. Jangan sampai hukum kalah oleh kekuasaan atau kepentingan tertentu,” ucapnya.

Dadan juga mengingatkan seluruh jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya agar tidak bersikap represif terhadap gerakan masyarakat sipil. Ia menegaskan, kebebasan menyampaikan pendapat adalah hak dasar yang dijamin konstitusi dan tidak boleh ditekan dengan cara-cara kekerasan.

“Jangan alergi terhadap kritik. Jangan pernah mencoba membungkam suara rakyat dengan cara-cara premanisme. Kita ini negara hukum, bukan negara preman,” tandasnya. (***)

Q Jabar

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini