Kabupaten Bandung Qjabar – Yayasan Pendidikan Al-Azhar terus berupaya mengembangkan pendidikan Islam yang mampu menjawab tantangan zaman. Melalui Pondok Pesantren Tahfiz Al-Qur’an Al-Azhar, lembaga pendidikan ini tidak hanya menargetkan lahirnya generasi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga membekali para santri dengan kemampuan teknologi informasi (IT), bahasa Inggris, dan bahasa Arab.
Hal tersebut disampaikan Hj. Lilis Suryani, S.Pd.I., bersama pimpinan Pondok Pesantren Al-Azhar, H. Nasirun, S.Ag., M.Pd.I., saat menyampaikan harapan dalam momentum peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-11 yang dirangkaikan dengan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-48 tingkat Kabupaten Bandung tahun 2026.
Hj. Lilis Suryani menjelaskan, Yayasan Pendidikan Al-Azhar menaungi sejumlah lembaga pendidikan, mulai dari PAUD, RA, MI Al-Azhar 1 dan 2 Baleendah, MTs, MA, hingga Pondok Pesantren Tahfiz Al-Qur’an Al-Azhar.
Menurutnya, peringatan Hari Santri Nasional merupakan momentum penting untuk mendoakan dan mendorong para santri agar kelak menjadi generasi penerus yang menjaga nilai-nilai agama sekaligus memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.
“Selamat Hari Santri Nasional ke-11. Semoga para santri menjadi penerus agama Allah dan turut memperbaiki kondisi bangsa Indonesia,” ungkap Hj. Lilis Suryani.
Ia berharap, santri pada masa mendatang tidak hanya memiliki kemampuan di bidang iman dan takwa (imtak), tetapi juga mampu menguasai ilmu pengetahuan, matematika, serta teknologi.
Menurutnya, penguatan pendidikan agama perlu berjalan beriringan dengan pengembangan kemampuan akademik dan keterampilan modern. Dengan demikian, santri dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki landasan spiritual kuat sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Target Tahfiz Al-Qur’an 30 Juz
Dalam pengembangan pendidikan pesantren, Al-Azhar memiliki program tahfiz Al-Qur’an dengan target para santri mampu menghafal 30 juz selama menempuh jenjang pendidikan hingga SMA.
H. Nasirun menjelaskan, pihaknya berupaya menghadirkan pendidikan pesantren yang dapat dijangkau berbagai kalangan masyarakat, baik dari kalangan ekonomi menengah ke bawah maupun menengah ke atas.
“Kami menyiapkan pesantren yang bisa diterima oleh kalangan bawah dan kalangan atas. Prinsipnya, ramah di kantong, murah tetapi tidak murahan,” ujarnya.
Ia menegaskan, keterjangkauan biaya pendidikan tetap diupayakan sejalan dengan kualitas pembelajaran dan tenaga pengajar yang profesional sesuai bidang keahliannya.
Menurut H. Nasirun, pihak pesantren menyiapkan tenaga pengajar dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Indonesia (UI), perguruan tinggi swasta, serta tenaga pengajar lulusan Al-Azhar Kairo, Mesir, Rabu 22 Oktober 2026.
Ia menyebutkan, terdapat dua tenaga pengajar lulusan Al-Azhar Kairo yang turut mendukung kegiatan pendidikan di pesantren tersebut. Para pengajar itu diharapkan dapat memperkuat pembelajaran Al-Qur’an dan pendidikan keislaman bagi para santri.
Kembangkan Ekstrakurikuler IT dan Penguasaan Bahasa Asing
Sejalan dengan perkembangan era digital, Pondok Pesantren Al-Azhar juga memberikan perhatian terhadap penguasaan teknologi informasi.
Hj. Lilis Suryani mengungkapkan, pihaknya telah menyediakan kegiatan ekstrakurikuler IT bagi para santri. Program tersebut menjadi salah satu upaya agar santri tidak hanya memperoleh pendidikan agama dan pembelajaran umum, tetapi juga mengenal serta mengembangkan keterampilan teknologi.
Selain IT, pesantren juga menjalankan program pembiasaan bahasa asing melalui kegiatan *one day one English* dan pembelajaran bahasa Arab.
Melalui program tersebut, para santri didorong untuk membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab dalam kegiatan komunikasi pada waktu yang telah ditentukan.
Menurutnya, penguasaan bahasa asing merupakan bekal penting bagi santri untuk memperluas wawasan, meningkatkan kepercayaan diri, serta membuka peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk di luar negeri.
Baca juga : Raih Juara II Festival Raksa Rupa, RW 07 Sangkanhurip Gelar Tasyakur Bini’mah
Pihak yayasan berharap, perpaduan antara pendidikan agama, tahfiz Al-Qur’an, teknologi informasi, dan bahasa asing dapat membentuk santri yang memiliki kemampuan beragam tanpa meninggalkan nilai-nilai akhlak dan keislaman.
Siapkan Program Kursus Menuju Al-Azhar Kairo
Selain memperkuat program pendidikan yang telah berjalan, Yayasan Pendidikan Al-Azhar juga berencana mengembangkan program kursus bagi anak-anak yang memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, melalui jalur beasiswa.
Hj. Lilis Suryani menyampaikan, program tersebut direncanakan melalui kerja sama dengan pihak pendidikan Al-Azhar Kairo. Rencana ini diharapkan menjadi salah satu upaya untuk memberikan kesempatan kepada generasi muda yang ingin memperdalam ilmu agama di luar negeri.
Ia berharap rencana pembukaan kursus tersebut dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi para peserta didik, khususnya mereka yang memiliki keinginan kuat untuk menempuh pendidikan di Kairo.
“Kami berharap program kursus ini bisa berjalan lancar dan menjadi jalan bagi anak-anak yang mempunyai impian belajar di Kairo melalui beasiswa,” tuturnya.
Meski demikian, program tersebut masih dalam tahap pencanangan atau persiapan sebagaimana disampaikan pihak yayasan. Realisasi, mekanisme pendaftaran, dan ketentuan beasiswa diharapkan dapat diinformasikan lebih lanjut setelah program resmi dibuka.
Harapkan MTQ ke-48 Lahirkan Qari dan Qariah Terbaik
Dalam kesempatan yang sama, Hj. Lilis Suryani turut menyampaikan harapannya terhadap penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-48 tingkat Kabupaten Bandung tahun 2026.
Ia berharap kegiatan tersebut berlangsung sukses serta mampu melahirkan qari dan qariah terbaik yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an sesuai kaidah yang berlaku.
Menurutnya, MTQ bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan juga sarana pembinaan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sekaligus mendorong generasi muda meningkatkan kemampuan dan kualitas bacaan mereka.
Pembinaan yang berkelanjutan di lingkungan keluarga, sekolah, dan pesantren dinilai penting agar potensi generasi Qur’ani dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Peringatan Hari Santri Nasional dan penyelenggaraan MTQ, lanjutnya, menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan agama sekaligus menanamkan nilai kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan akhlak mulia kepada generasi muda.
Melalui berbagai program tersebut, Yayasan Pendidikan Al-Azhar berharap dapat berkontribusi dalam membangun generasi yang mencintai Al-Qur’an, menguasai ilmu pengetahuan, melek teknologi, serta memiliki kemampuan bahasa asing.
Dengan demikian, santri diharapkan tidak hanya menjadi penjaga nilai-nilai keagamaan, tetapi juga mampu mengambil peran dalam pendidikan, kehidupan sosial, dan pembangunan bangsa di tengah perkembangan zaman.
Reporter: Yun.s

