Bandung Qjabar – Banjir yang mengepung Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, kian menunjukkan eskalasi serius dan tak lagi bisa dianggap persoalan lokal. Desa ini kini menjadi titik akumulasi air kiriman dari berbagai wilayah di Bandung Raya.
Kepala Desa Tegalluar, Galih Hendrawan, mengatakan banjir yang terjadi bukan semata akibat hujan di wilayahnya. Air justru datang dari kawasan hulu seperti Ujung Berung, Gedebage, Jatinangor, hingga Rancaekek yang mengalir melalui Sungai Cinambo dan bermuara ke Sungai Cikeruh.
“Tegalluar sekarang seperti bak penampungan raksasa. Air terus datang dari berbagai arah, bukan hanya dari hujan lokal,” ujar Galih, Rabu (15/04/2026).
Ia menegaskan, kondisi ini membuat sekitar 75 persen wilayah desa terdampak, dengan sedikitnya 4.075 rumah warga terendam banjir. Aktivitas masyarakat pun lumpuh akibat genangan yang terus bertahan.
Lebih lanjut, Galih menyatakan bahwa penanganan banjir tidak bisa hanya dibebankan kepada Pemerintah Kabupaten Bandung. Menurutnya, diperlukan keterlibatan lintas daerah karena sumber masalah berasal dari banyak wilayah.
“Penanganan banjir ini tidak bisa hanya dilakukan oleh kabupaten. Harus ada koordinasi lintas daerah serta pembangunan sistem drainase yang memadai, terutama di jalur jalan provinsi yang melintasi Tegalluar,” katanya.
Ia juga menekankan, tanpa langkah besar dan terintegrasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, banjir kiriman seperti ini berpotensi terus berulang bahkan semakin meluas.
“Kalau tidak ada penanganan serius, banjir ini akan terus terjadi dan dampaknya bisa semakin besar,” jelasnya.
Reporter : Yun.s










