BerandaDaerahUsia 4 Tahun, Abang Aqsha Pilih Wayang Golek, Jadi Dalang Cilik di...

Usia 4 Tahun, Abang Aqsha Pilih Wayang Golek, Jadi Dalang Cilik di Tasikmalaya

Date:

Berita Terkini

Owner DJ ARENA SMS Dukung Festival Burung, Enam Tahun Gibas Kepemimpinan Waris Makin Semarak

Tasikmalaya, QJabar – Peringatan enam tahun kepemimpinan Waris sebagai...

Enam Tahun Pimpin GIBAS Tasikmalaya, Waris Gelar Festival Burung Berkicau Berhadiah Enam Motor

Kabupaten Tasikmalaya, QJabar – Peringatan enam tahun kepemimpinan Waris...

KARTA Keluarga 7 Gebrak Cikambuy Tengah dengan Lomba Meriah

KABUPATEN BANDUNG Qjabar — Semarak peringatan Hari Ulang Tahun...

HUT ke-81 RI, PWRI Tasikmalaya Tegaskan Pers Harus Independen dan Bertanggung Jawab

Kabupaten Tasikmalaya, QJabar – Momentum Hari Ulang Tahun (HUT)...
spot_imgspot_img

Tasikmalaya, QJabar – Di tengah derasnya arus digital yang semakin lekat dengan kehidupan anak-anak, sosok Abang Aqsha justru memilih jalan berbeda. Di usia yang baru menginjak empat tahun, bocah asal Dusun Lampegan, Desa Gresik, Kecamatan Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya, itu mulai menekuni dunia pedalangan.

Abang Aqsha tampil sebagai dalang cilik dalam pagelaran wayang golek yang digelar di kampung halamannya, Sabtu (15/8/2026).

Dalam pertunjukan tersebut, ia membawakan lakon “Sastra Jingga Jadi Relawan”.

Penampilan tersebut menjadi perhatian sekaligus gambaran bahwa kecintaan terhadap seni tradisi dapat tumbuh sejak usia sangat dini.

Pagelaran wayang golek itu turut dihadiri Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) HMI Cabang Tasikmalaya. Kehadiran mereka menjadi bentuk apresiasi terhadap upaya pelestarian seni dan budaya daerah, khususnya seni padalangan.

Direktur LSMI HMI Cabang Tasikmalaya, Cepi Sultoni, mengaku bahagia melihat munculnya generasi muda yang memiliki ketertarikan terhadap seni tradisional.

“Bahagia sekali ada Generasi Alpha, umur 4 tahun, yang melestarikan seni budaya leluhur, khususnya padalangan. Yang kita tahu, zaman sekarang Generasi Alpha banyak terfokus pada game atau media sosial. Tetapi Abang Aqsha justru memilih menggunakan media sosial untuk berkarya lewat padalangan,” ujar Cepi.

Menurut Cepi, Abang Aqsha tidak sekadar belajar menjadi seorang dalang. Lebih dari itu, ia menunjukkan bahwa generasi yang lahir di tengah kemajuan teknologi tetap dapat memiliki hubungan kuat dengan akar kebudayaannya.

Ia menilai perkembangan zaman seharusnya tidak membuat generasi muda semakin jauh dari tradisi.

Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan seni tradisional kepada masyarakat yang lebih luas.

“Wayang tidak harus berhenti di panggung. Cerita, karakter, suara, dan nilai-nilai yang ada di dalamnya bisa berjalan ke ruang digital. Media sosial bisa menjadi jalan bagi seni tradisi untuk bertemu dengan generasi baru,” katanya.

Kehadiran Abang Aqsha menjadi angin segar bagi dunia padalangan di Kabupaten Tasikmalaya. Ketika anak-anak seusianya banyak mengenal dunia melalui permainan dan konten digital, Abang Aqsha justru mulai berkenalan dengan wayang, tokoh-tokoh pewayangan hingga seni pedalangan.

Apa yang dilakukan Abang Aqsha sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Pelestarian itu bisa berawal dari seorang anak kecil yang mencintai wayang, sebuah panggung sederhana di kampung, serta keluarga dan lingkungan yang memberikan ruang bagi tumbuhnya kecintaan terhadap seni tradisional.

LSMI HMI Cabang Tasikmalaya berharap sosok seperti Abang Aqsha dapat menginspirasi lahirnya generasi baru yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk merawat identitas dan kebudayaan daerah.

Sebab, budaya tidak akan hidup hanya karena terus dikenang. Budaya akan tetap hidup ketika ada generasi yang bersedia mempelajari, mencintai, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya. (masdar)

Q Jabar

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini