TASIKMALAYA, QJABAR — Upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat terus dilakukan Barisan Pejuang Demokrasi (Bapeksi) yang digagas Jenderal (Purn) TB Hasanuddin. Salah satunya melalui pelatihan pembuatan Batik Ciwitan yang digelar di Kota Tasikmalaya, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari program roadshow Bapeksi se-Jawa Barat tersebut berlangsung di Sekretariat LKP Motekar, Jalan Cibeuti No. 17, Cicariang, Kelurahan Kersamenak, Kecamatan Kawalu. Sebanyak 20 warga dari sekitar Kawalu mengikuti pelatihan tersebut.
Ketua Bapeksi Kota Tasikmalaya, Deny Romdoni, mengatakan Kota Tasikmalaya menjadi lokasi ke-11 dalam rangkaian roadshow pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan Bapeksi.
Menurut Deny, TB Hasanuddin sebenarnya dijadwalkan hadir dalam kegiatan tersebut. Namun, rencana kehadiran itu batal karena TB Hasanuddin berhalangan menghadiri kegiatan akibat adanya tazkiyah atas meninggalnya Mas Guruh di Jakarta.
“Ini program Bapeksi yang ketua umumnya Pak TB Hasanuddin. Tadinya beliau mau hadir, namun berhalangan karena ada tazkiyah Mas Guruh yang meninggal dunia di Jakarta,” kata Deny.
Deny menjelaskan, pelatihan tersebut tidak hanya ditujukan untuk memberikan keterampilan sesaat. Peserta diharapkan dapat mengembangkan kemampuan yang diperoleh menjadi kegiatan usaha dan selanjutnya didorong membentuk kelompok UMKM.
“Targetnya, peserta memiliki keahlian yang bisa membuka lapangan kerja baru dan nantinya didorong menjadi kelompok UMKM. Tidak selesai pelatihan lalu dibiarkan,” ujarnya.
Program tersebut, lanjut Deny, sejalan dengan tagline Bapeksi “Untuk Rakyat”, terutama dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat dan membuka peluang usaha baru.
Pelatihan Batik Ciwitan menghadirkan Arina Arinawati, yang mewakili Ketua DPC Bapeksi Kabupaten Bogor, Eka Harijayanti, sebagai penemu teknik Batik Ciwitan.
Berbeda dengan batik tulis konvensional, Batik Ciwitan menggunakan teknik yang relatif sederhana. Proses pembuatannya tidak menggunakan canting maupun malam, tetapi memanfaatkan teknik menjahit.
“Teknisnya jauh dari pembuatan batik pada umumnya. Alatnya sangat sederhana, tidak memakai canting atau malam, melainkan mengandalkan teknik menjahit,” jelas Arina.
Peralatan yang digunakan juga cukup sederhana, di antaranya kain, gunting, jarum, benang, tali rafia, penggaris dan spidol untuk membuat pola.
Kain kemudian diciwit atau dicubit pada bagian tertentu, diikat, lalu pola dijahit menggunakan teknik jelujur atau jahit karung. Jahitan tersebut nantinya membentuk motif ketika kain melalui proses pewarnaan.
“Makanya dinamakan Batik Ciwitan,” lanjutnya.
Pada tahap awal, peserta diperkenalkan dengan motif dasar seperti lingkaran, segi empat dan kelopak bunga. Ke depan, motif tersebut dapat dikembangkan dan dipadukan dengan ragam hias khas Batik Tasikmalaya.
Sementara itu, Ketua DPD Bapeksi Jawa Barat, Dadang Romansyah, mengatakan program pemberdayaan tersebut merupakan bagian dari kegiatan Bapeksi di berbagai daerah di Jawa Barat.
Dadang menyebut Bapeksi merupakan organisasi masyarakat independen yang digagas Jenderal (Purn) TB Hasanuddin dan tidak terafiliasi dengan partai politik mana pun.
Saat ini, DPD Bapeksi Jawa Barat membawahi 27 DPC kabupaten/kota dengan fokus pada dua bidang utama, yakni advokasi hukum gratis melalui LBH bagi masyarakat kurang mampu dan pemberdayaan ekonomi melalui pelatihan keterampilan.
“Seluruh anggaran murni dari Bapeksi, tanpa menggunakan APBD, APBN, maupun sponsor pihak swasta,” tegas Dadang.
Menurutnya, roadshow pemberdayaan akan terus menyasar seluruh 27 kabupaten/kota di Jawa Barat. Jenis pelatihan juga akan disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah, tidak hanya batik tetapi juga keterampilan lain seperti perikanan hingga pembordiran.
“Tujuannya memberikan skill nyata kepada kaum perempuan dan generasi muda agar bisa mandiri mendongkrak ekonomi keluarga,” pungkas Dadang.


