TASIKMALAYA, QJABAR — Tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks. Di satu sisi, tekanan ekonomi dan persaingan lapangan kerja menuntut kemandirian. Di sisi lain, pemuda juga dihadapkan pada ancaman sosial, mulai dari penyalahgunaan ruang digital hingga aksi kelompok bermotor yang meresahkan masyarakat.
Persoalan tersebut mengemuka dalam kegiatan “Peningkatan Kapasitas Lembaga Kemasyarakatan” di Aula Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan yang dihadiri unsur legislatif, pemerintah kecamatan, organisasi kepemudaan, serta lembaga kemasyarakatan itu menjadi ruang untuk membicarakan bagaimana pemuda tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi ikut mengambil peran sebagai kekuatan sosial dan ekonomi di lingkungannya.
Hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPRD Kota Tasikmalaya Fraksi PDI Perjuangan Kepler Sianturi, Camat Bungursari Sodik Sunandi, Sekretaris Umum IKA PMII Miftah Farid, unsur Satpol PP, serta perwakilan berbagai lembaga kemasyarakatan.
Bela Negara Tak Harus Angkat Senjata
Dalam pemaparannya, Kepler mengajak peserta melihat kembali makna bela negara sesuai tantangan zaman.
“Bagaimana saya bisa bicara bela negara, sedangkan mencari sesuap nasi saja susah? Justru di sinilah bela negara yang sesungguhnya di zaman kita ini,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan masyarakat saat ini tidak hanya berkaitan dengan ancaman fisik. Kemiskinan, keterbatasan lapangan pekerjaan, kebodohan, keputusasaan, serta perpecahan juga menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
“Musuh kita hari ini bukan penjajah berseragam. Musuh kita adalah kemiskinan, kebodohan, keputusasaan, dan perpecahan. Senjata kita adalah kerja keras, persatuan, dan karya nyata,” tegasnya.
Karena itu, pemuda didorong tidak hanya menunggu tersedianya lapangan pekerjaan, tetapi mulai menciptakan peluang melalui usaha dan pemberdayaan ekonomi di lingkungan masing-masing.
Karang Taruna Didorong Jadi Motor Ekonomi
Karang Taruna dinilai memiliki posisi strategis karena berada langsung di tengah masyarakat.
Kepler mendorong organisasi kepemudaan tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mulai mengembangkan potensi ekonomi lokal, mendampingi UMKM, dan menciptakan lapangan pekerjaan.
“Ketika Karang Taruna bergotong royong membangun UMKM di kampung sendiri, membuka lapangan kerja sekecil apa pun, itu adalah bentuk nyata bela negara,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat meningkatkan kecintaan terhadap produk lokal dan tidak hanya menjadi konsumen.
Salah satu bentuk pemberdayaan yang telah dilakukan adalah pelatihan vokasi bagi sekitar 120 peserta dengan delapan bidang keterampilan. Peserta mendapat pelatihan mulai dari pengolahan pangan seperti dimsum hingga keterampilan digital seperti desain grafis.
Program tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk membangun usaha dan menciptakan sumber penghasilan secara mandiri.
Geng Motor dan Tantangan Pemuda
Sementara itu, Sekretaris Umum IKA PMII Miftah Farid menyoroti persoalan keamanan yang turut menjadi tantangan generasi muda.
Menurutnya, fenomena geng motor dan berbagai bentuk kenakalan remaja membutuhkan penanganan yang tidak hanya bersifat represif, tetapi juga preventif.
Ia mendorong adanya pemetaan terhadap anak-anak yang menggunakan kendaraan tidak sesuai standar serta penguatan edukasi di lingkungan sekolah.
Selain itu, data hasil penertiban atau razia dinilai perlu terintegrasi dengan instansi terkait sehingga penanganan tidak berhenti pada tindakan sesaat.
“Pemerintah tidak bisa sendiri. Butuh pentahelix,” ujarnya.
Menurut Miftah, semangat bela negara bagi pemuda juga dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang langsung dirasakan masyarakat.
“Esensi bela negara pemuda: jaga lingkungan, dampingi UMKM, bersih-bersih selokan. Pemerintah hadir, dewan hadir, masyarakat bergerak,” tegasnya.
Stunting Turun, Gotong Royong Jadi Kunci
Dari sisi pembangunan sosial, Camat Bungursari Sodik Sunandi menyampaikan capaian penurunan angka stunting di wilayahnya.
Ia menyebut angka stunting yang pada 2022 berada di angka 24 persen telah turun menjadi 10,35 persen.
Menurut Sodik, capaian tersebut bukan hasil kerja pemerintah kecamatan semata, melainkan buah kolaborasi berbagai unsur masyarakat.
“Ini bukan kerja Camat. Ini kerja kita semua: Karang Taruna, kader, RT/RW, Babinsa, Bhabinkamtibmas,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penanganan persoalan sosial membutuhkan keterlibatan masyarakat secara langsung.
Di Tengah Tekanan Fiskal, Pelayanan Harus Tetap Jalan
Sodik juga memaparkan kondisi fiskal yang tengah dihadapi pemerintah daerah.
Ia menyebut anggaran ditahan hingga 50 persen karena kondisi fiskal yang menurutnya sedang tidak baik, dengan pemangkasan yang disebutnya mencapai hampir Rp20 triliun.
“Anggaran ditahan dulu 50 persen karena kondisi fiskal kita sedang tidak bagus. Hampir 20 triliun kita mengalami pemangkasan,” katanya.
Meski menghadapi keterbatasan, menurut Sodik, pelayanan kepada masyarakat harus tetap berjalan.
Ia mencontohkan kegiatan “Tasik Gemas” setiap Jumat yang diisi dengan senam bersama, pemberian tambahan pangan, bazar UMKM, serta pemeriksaan kesehatan gratis.
Di tengah keterbatasan anggaran, berbagai kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bahwa pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus bergantung pada besarnya anggaran.
Pada akhirnya, peran pemuda dinilai menjadi semakin penting. Bukan hanya sebagai pencari pekerjaan, tetapi sebagai pencipta peluang, penggerak ekonomi, penjaga lingkungan, sekaligus bagian dari kekuatan yang menjaga keamanan dan persatuan masyarakat.
Pesan yang mengemuka dari Bungursari sederhana: ketika ekonomi sedang sulit, pemuda jangan kehilangan arah. Ketika lingkungan menghadapi ancaman, masyarakat jangan tinggal diam. Dan ketika persatuan diuji, ruang digital jangan dijadikan tempat menyebarkan perpecahan.
Ekonomi boleh menghadapi tekanan, tetapi semangat berkarya dan gotong royong tidak boleh ikut padam.





