Home / Hukum & Politik / Aspirasi Tumpah di Tawang: Kepler Sianturi Soroti Tembok Tinggi KUR dan Tegaskan Integritas Pokir

Aspirasi Tumpah di Tawang: Kepler Sianturi Soroti Tembok Tinggi KUR dan Tegaskan Integritas Pokir

Kota Tasik – Suasana di Aula Kantor Kecamatan Tawang mendadak riuh oleh suara warga yang datang membawa tumpukan harapan. Pertemuan reses anggota DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi PDI Perjuangan, Kepler Sianturi, yang seharusnya menjadi agenda rutin, berubah menjadi ruang refleksi mendalam atas berbagai persoalan ekonomi yang menghimpit masyarakat di Kecamatan Tawang, Bungursari, dan Cihideung. 10/03/2026

Isu akses permodalan menjadi “bom waktu” yang meledak dalam diskusi tersebut. Meski Kredit Usaha Rakyat (KUR) kerap digadang-gadangkan sebagai penyelamat ekonomi mikro, kenyataan di lapangan justru dirasakan sebaliknya. Banyak pelaku UMKM mengeluhkan sulitnya menembus barikade birokrasi perbankan milik negara (Himbara). “Banyak yang mengeluh pengajuan mereka ditolak. Padahal, tambahan modal ini adalah nyawa bagi mereka untuk bisa naik kelas,” ujar Kepler dengan nada prihatin.

Ia menegaskan bahwa perbankan seharusnya tidak menjadi tembok tinggi bagi rakyat kecil. Sebagai garda terdepan program strategis nasional, bank-bank Himbara diminta untuk lebih fleksibel dan membuka pintu selebar-lebarnya bagi ekonomi akar rumput. Kepler menekankan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya berputar di level elit, sementara UMKM di daerah berjuang sendirian tanpa dukungan finansial yang nyata.

Aspirasi warga pun meluap melampaui urusan perbankan. Dari bangku petani, muncul keluhan tentang peliknya distribusi pupuk, sementara warga kurang mampu menanti kepastian program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Bahkan, muncul usulan unik mengenai bantuan pengadaan domba sebagai simbol harapan baru bagi pemberdayaan ekonomi keluarga di pelosok desa.

Di tengah hangatnya dialog, Kepler juga menyisipkan pesan menohok bagi internal birokrasi dan rekan sejawatnya mengenai integritas politik. Ia menegaskan bahwa Pokok Pikiran (Pokir) anggota dewan adalah amanah suci yang tidak boleh dikomersialkan. “Pokir itu aspirasi masyarakat, bukan untuk diperjualbelikan. Harus benar-benar dimanfaatkan untuk kebutuhan warga,” tegasnya, disambut anggukan setuju dari para konstituen.

Menutup kegiatan tersebut, Kepler berjanji bahwa seluruh suara yang tertumpah hari itu tidak akan berakhir sia-sia di atas kertas catatan. Ia berkomitmen untuk mengawal tumpukan aspirasi tersebut hingga ke meja pembahasan di gedung DPRD Kota Tasikmalaya, memastikan agar kebijakan pemerintah daerah ke depan lebih “membumi” dan berpihak pada mereka yang sedang berjuang di garis depan ekonomi mikro.

Reporter: Andriana

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *